SASTRA DAN STUDI SASTRA

SASTRA DAN STUDI SASTRA
Sastra dan Studi Sastra
Ruang lingkup sastra (literature) adalah kreativitas penciptaan, sedangkan ruang lingkup studi sastra (literary study) adalah ilmu dengan sastra sebagai objeknya. Sastra, dengan demikian, berfokus pada kreativitas, sedangkan studi sastra berfokus pada ilmu. Pertanggungjawaban sastra adalah estetika, sedangkan pertanggungjawaban studi sastra adalah logika ilmiah.

Teks dan Konteks
Teks adalah sastra, khususnya karya sastra – sebuah dunia otonom yang tidak terikat oleh dunia lain di luar sastra itu sendiri –, dan konteks adalah dunia di luar teks itu sendiri, misalnya biografi pengarang dan situasi serta kondisi masyarakat. Kehadiran teks dan konteks disebabkan oleh sebuah paradigma, yaitu sastra tidak lain adalah cerminan realita.

Cabang Studi Sastra
Studi sastra mempunyai tiga genre, yaitu teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra.
a.    Teori Sastra (Theory of Literature): kaidah-kaidah untuk diterapkan dalam analisis karya sastra.
b.    Kritik Sastra (Literary Criticism): penerapan kaidah-kaidah, rambu-rambu, atau teori-teori tertentu dalam analisis karya sastra, seperti teori New Criticism, strukturalisme, psikoanalisa, dll. Kritik sastra lahir pada abad keenam belas atau ketujuh belas.
c.    Sejarah Sastra (History of Literature): sejarah perkembangan sastra yang mungkin meliputi aliran-aliran dalam penulisan karya sastra (misalnya klasisme, romantisisme, realisme, dll dalam sastra nusantara), periodisasi sastra, dll).

Sastra Serius dan Sastra Hiburan
Dalam studi sastra dikenal dua macam sastra, yaitu sastra serius atau sastra interpretatif (interpretatif literature), yaitu sastra untuk ditafsirkan, dan sastra hiburan atau sastra pop atau sastra untuk pelarian (escape literature). Sastra serius cenderung merangsang pembaca untuk menafsirkan atau menginterpretasikan karya sastra itu, sedangkan sastra hiburan adalah karya sastra untuk melarikan diri (escape) dari kebosanan, dari rutinitas sehari-hari, atau dari masalah yang sukar diselesaikan. Sastra hiburan, dengan demikian, sifatnya menghibur. Sastra hiburan dinamakan juga sastra pop (sastra populer).
Sastra serius merangsang pembaca untuk menafsirkan, dan karena itu menambah wawasan kehidupan (insight into life) pembaca. Sebaliknya, sastra hiburan hanyalah untuk iseng semata, dan karena itu tidak meninggalkan kesan yang serius.
Salah satu ciri sastra hiburan adalah tokoh-tokoh yang tampan, kaya, dicintai, dan dikagumi, serta sanggup mengatasi segala macam masalah dengan mudah. Pembaca, dengan demikian, dipancing melakukan identifikasi diri seolah dirinya tidak lain adalah tokoh itu sendiri. Maka, apa yang dipancing oleh sastra hiburan tidak lain adalah wishful thinking, yaitu impian-impian yang tidak mungkin dicapai. Pembaca dibuai bukan oleh masalah hakiki kehidupan, namun ilusi.
Sementara itu, George Santayana, seorang filsuf estetika menyatakan bahwa akhir sebuah karya seni yang baik adalah gema kesan berkepanjangan dalam pikiran dan jiwa seseorang yang mampu menghayati karya seni itu dengan baik. Sastra serius menawarkan renungan (kontemplasi) yang dalam, dan karena itu, pada saat pembaca selesai membaca, dia akan merenung berkepanjangan.

Kriteria Sastra
1.    Pada zaman Aristoteles hanay ada dua genre, yaitu puisi dan drama, sementara drama dibagi dalam tiga subgenre, yaitu tragedi, komedi, dan tragi-komedi (tragedi dengan unsur-unsur komedi). Karena drama ditulis dalam genre puisi, maka karya sastra yang baik dianggap mempunyai nilai puitik (poetic) yang tinggi – pity, terror, dan catharsis. Pity, yaitu rasa kasihan pada penonton atau pembaca. Terror, yaitu rasa diteror, rasa takut, rasa ngeri, dan karena semuanya itu timbullah ras mual. Catharsis, yaitu rasa lega karena telah terbebas dari pity dan terror.
2.    Horace (Horatius) menganggap, karya seni yang baik, termasuk sastra, selalu memenuhi dua butir kriteria, yaitu dulce et utile (ras nikmat dan manfaat atau kegunaan). Sastra harus bagus, menarik, dan memberi kenikmatan. Tentu saja, kenikmatan ini hanya dimilki oleh pembaca yang bermutu. Sastra harus memberi manfaat, yaitu kekayaan batin, wawasan kehidupan, dan moral.
Masalah moral akhirnya menimbulkan berbagai pertanyaan yang ujungnya menyangkut masalah kretivitas. Pengarang menulis tidak lain untuk menciptakan karya sastra yang estetis. Sementara itu, pembaca yang kritis akan meras digurui. Moral, dengan demikian, dapat mengurangi nilai estetika, dan karena itu mengganggu kenikmatan pembaca. Menurut Jane Austin, semua tokoh yang ada dalam novelnya harus menarik, dan untuk benar-benar menarik, nilai-nilai moral harus dilanggar. Dia berhasil dengan baik karena dia akhirnya sanggup memadukan tuntutan estetika dna tuntutan moral.
3.    Keberhasilan Jane Austen dan pengarang-pengarang lain dalam mengatasi dilema tuntutan estetika dan tuntutan moral melahirkan kriteria lain, yaitu bentuk (form) dan isi (content) harus seimbang. Bentuk adalah cara atau teknik menulis, sedangkan isi adalah pemikiran yang akan dituangkan dalam karya sastra. Bnetuk yang terlalu baik akan melahirkan karya sastra yang kosong, sedangkan isi yang bain tanpa diimbangi oleh bentuk yang tepat akan melahirkan karya sastra yang menggurui.
Salah satu bagian bentuk adalah bahasa: bahasa yang baik dengan isi tidak bermutu akan melahirkan retorika kosong belaka. Moral, sementara itu, masuk pada bagian isi. Perimbangan yang baik antara bentuk dan isi, dengan demikian, menyangkut masalah moral. Dalam perkembangannya, isi cenderung hanya berupa pemikiran yang belum tentu ada kaitannya dengan moral.
4.    E.M. Forster, seorang novelis dan teoritikus sastra, dalam Aspect of The Novel antara lain menulis mengenai cerita, dan plot, serta tokoh dan penokohan.
Kunci penting terjadinya plot (hubungan sebab-akibat) tidak lain adalah konflik, dan kunci penting konflik adalah tokoh dna penokohan. Sebagaimana halnya manusia dalam kehidupan sehari-hari, masing-masing tokoh mepunyai watak sendiri-sendiri dna kadang-kadang bertentangan satu saam lain. Perbedaan watak inilah yang memicu timbulnya konflik, apalagi kalau watak-watak itu saling bertentangan.
Sebagai konsekuensi keharusan adanya konflik, muncul tuntuan lain, yaitu klimaks sebagai penentu penutup plot. Makin tinggi nilai estetika sebuah konflik, makin tinggi pula nilai estetiak sebuah klimaks. Karena klimaks memegang kunci penutup plot, maka karya sastra dengan konflik yang baik dan klimaks yang baik juga akan mempunyai penutup yang baik.
Menurut Kuntowijaya, salah satu kelemahan sastra Indonesia adalah lemahnya konflik. Pengarang tidak mampu menciptakan konflik yang bermakna, tidak lain karena pengarang adalah produk masyarakat Indonesia yagn cenderung menghindari konflik sehingga berbagai masalah yang seharusnya dapat diselesaikan tidak pernah terselesaikan dan dibiarkan berlarut-larut sampai hilang dengan sendirinya.

Belle Lettres dan Literature
Hingga menjelang Perang Dunia II, dalam studi sastra ada pemisahan yang jelas antara belle lettres dan literature. Belle lettres adalah sastra yang mutunya benar-benar tinggi, sedangkan literature adalah sastra biasa. Karena mutu belle lettres benar-benar tinggi, maka belle lettres dianggap identik dengan sastra klasik. Makna klasik tidak lain adalah kelas satu yang kemudian ditafsirkan kuno karena mampu melampaui berbagai zaman. Contoh belle lettres antara lain drama-drama tragedi Sophocles pada Zaman Yunani Kuno dan drama-drama tragedi Shakespeare pada Zaman Renaissance di Inggris. Dari literature atau sastra biasalah muncul sastra seriusdan sastra hiburan.

Kanon Sastra
Semua karya sastra yang baik, lepas dari pakah sastra itu belle lettres atau literature, masuk dalam kanon sastra. Dalam bahasa Arab, kanun berarti hukum atau aturan. Karya sastra yang sudha masuk kanon dapat diibaratkan sebagai sesuatu yang sudah dijadikan undang-undang. Sastra kanon adalah sastra yang mutunya tidak perlu diragukan lagi dan karena itu dianggap baku. Contoh kanon sastra Indonesia, antara lain, adalah sastra Balai Pustaka, sastra Punjangga Baru, dan sastra Angkatan 45.
Sesuai dengan tuntutan zaman, kanon sastra dapat berubah. Perubahan terjadi karena aspirasi yang berkembang di masyarakat dan perkembangan ilmu. Selain itu juga, dengan adanya perkembangan berikutnya, seperti munculnya sosiologi sastra, kanon sastra dapat berubah. Salah satu titik berat sosiologi sastra adalah paradigma bahwa sastra tidak lain adalah cerminan masyarakat. Karena itu, makin dekat sastra dengan realitas kehidupan, makin tinggilah nilai sastranya.

Intrinsik, Ekstrinsik, dan Sastra Mainstream
Dalam kaijan intrinsik, sastra dianggap sebagai sebuah dunia otonom. Kajian ekstrinsik, sebaliknya, sangat memperhatikan karya sastra dengan dunia luar karya sastra itu sendiri.
Selain mengenal kanon sastra, studi sastra juga mengenal sastra mainstream, yaitu sastra yang dianggap penting pada kurun waktu tertentu. Dalam sastra kontemporer di mana pun pasti ada sastra yang dianggap penting dan karena itu serign dibicarakan dan dipakai sebagai rujukan, ada pula sastra “kelas”-nya dianggap rendah. Sastra yang “kelas”-nya tinggi dianggap sebagai sastra maistream, sedangkan yang “kelas”-nya rendah berada di luar sastra.

Lima Cabang Studi Sastra
Kecuali tiga genre, studi sastra juga mempunyai lima cabang, yaitu:
a.    Sastra Umum, yaitu sastra yang berkaitan denga ngerakan-gerakan internasional, misalnya poetics dan teori sastra. Poetics Aristoteles dan teori sastra strukturalisme, misalnya, menyebar ke seluruh dunia dan diaplikasikan juga di seluruh dunia. Dengan demikian, sastra umum juga dinamakan sastra universal, yaitu sastra yang nilai-nilainya ada dan dapat diterapkan di seluruh dunia.
b.    Sastra Nasional, yaitu sastra bangsa atau negara tertentu, misalnya Sastra Prancis, Sastra Indonesia, Sastra Inggris, dll.Tempat seorang sastrawan dalam konteks sastra nasional pada umunya tidak ditentukan oleh bahasa karya sastra sang sastrawan, tetapi oleh kewarganegaraan sastrawan tersebut.
c.    Sastra Regional, yaitu sastra dari kawasan geografi tertentu yang mencakup beberapa negara, baik yang mempergunakan bahasa yang sama maupun yang mempergunakan bahasa yang berbeda, seperti berikut: Sastra ASEAN (sastra negara-negara anggota ASEAN) dengan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan negara anggota masing-masing: Sastra Nusantara (sastra berbahasa Melayu): Sastra Dunia, sastra yang reputasi para sastrawannya da karya-karyanya diakui secara internasional. Sebuah karya sastra dapat dianggap sebagai karya besar dan diakui secara internasional manakala karya sastra itu ditulis dengan bahasa yang baik, dan dengan matlamat untuk menaikkan harkat dan derajat manusia sebagai makhluk yang paling mulia.
d.    Sastra Bandingan. Lahirnya sastra bandingan terkait dengan jati diri bangsa. Sastra dianggap sebagai salah satu kunci mendedah jati diri suaut bangsa karena sastra tidak lain adalah pencerminan asppirasi bangsanya. Istilah sastra bandingan pertama kali muncul di Eropa ketika batas berbagai negara di Eropa mengalami perubahan dan karena itu menimbulkan pemikiran mengenai kebudayaan nasional dan sastra nasional. Apalagi pada waktu itu perhatian orang-orang Eropa terhadap Amerika mencapai tahap-tahap yang penting. Masalah kebudayaan nasional, jati diri bangsa, dan sastra nasional juga muncul di negara-negara bekas jajahan. Untuk memahami diri sendiri, seseorang perlu menengok keluar dan membandingkan keadaan dirinya dengan keadaan di luar dirinya. Karena itulah, tumbuhlah sastra bandingan yang membandingkan karya-karya bekas jajahan dengan bekas penjajah dan juga antara sesama negara yang pernah dijajah.

PSIKOLOGI DAN SASTRA
Pada hakikatnya, psikologi tidak dapat dipisahkan dari mitoligi Yunani Kuno. Beberapa kasus dalam psikologi, misalnya “histeria” dan “narsisme” berasal dari mitologi Yunani Kuno. Karena sastra adalah kepanjangan mitologi, maka sastra, langsung atau tidak , juga merupakan kepanjangan psikologi. Dalam mitologi ada tokoh-tokoh, demikian juga dalam karya sastra. Masing-masign tokoh mempunyai kepentingan dan masalah, dan karenanya ada kepentingan dan dengan adanya masalah inilah mereka saling berinteraksi. Dari interaksi inilah pembaca dapat menyimak watak masing-masing tokoh.

Psikologi, Seni, dan Sastra
Pemikir pertama yang berhasil mendedah hubungan antara psikologi, seni, dan sastra adalah Freud. Dengan sangat cermat dia mempelajari riwayat hidup para seniman besar dan sastrawan besar, dan berusaha mencari hubungan signifikan riwayat hidup mereka dengan karya-karyanya. Dia berhasil membuktikan bahwa seni dan sastra, begitu juga mitologi, sangat erat kaitannya dengan psikologi.

Psikologi Personalitas
Abad ke-20 didominasi oleh tiga teori psikologi, yaitu psikologi analisa dengan tokoh-tokohnya Freud, Jung, dan Lacan; psikologi behaviorisme dengan tokoh-tokohnya B.F. Skinner dan John B. Watson; dan psikologi humanistik dengan tokohnya Abraham Maslow dan Carl Rogers. Psikoanalisa dipergunakan untuk orang-orang yang “tidak normal”, behaviorisme menunjukkan bahwa manusia selamanya dikondisikan oleh lingkungannya, sedangkan psikologi humanistik untuk “orang-orang normal” yang ingin mendapat pencapaian maksimal atau aktualisasi diri. Karena tiga psikologi itu pada hakikatnya mempertanyakan masalah jati diri, maka tig psikologi tersebut dinamakan psikologi personalitas.

Psikologi Behaviorisme
Dalam psikologi behaviorisme ditekankan bahwa segala sesuatu yang dapat dianggap sebagai ilmu pengetahuan harus dapat diobservasi secara langsung. Oleh karena itu, penelitian-penelitian psikologi behaviorisme selalu didasarkan pada pengamatan langsung dengan mempergunakan binatang.
Menurut psikologi behaviorisme, tindakan manusia selalu dikondisikan oleh lingkungannya karena perilaku manusia tidak lain merupakan tanggapan terhadap kondisi lingkungannya.
Ada tiga alasan mengapa pikologi masuk ke dalam kajia sastra, yaitu.
1.    untuk mengetahui perilaku dan motivasi para tokoh dalam karya sastra. Langsung atau tidak, perilaku dan motivasi pata tokoh dalam karya sastra tampak juga dalam kehidupan sehari-hari.
2.    untuk mengetahui perilaku dan motivasi pengarang.
3.    untuk mengetahui reaksi psikologis pembaca.

Psikoanalisa
Dalam psikologi, psikoanalisa digunakan untuk terapi penderita penyakit jwa. Sementara itu, dalam sastra psikoanalisa digunakan untuk menganalisis tokoh/pengarang/pembaca yang mengalami gangguan jiwa. Berbeda dengan psikoanalisa dalam psikologi, yaitu bersifat pengobatan, psikoanalisa dalam sastra digunaan untuk menganalisis karya sastra/sastrawan/pembaca tanpa mengandung unsur pengobatan secara langsung.
Jiwa manusia, menurut psikoanalisa, memiliki tiga komponen (model tripartit):
1.    id, yaitu dorongan alamiah jiwa manusia untuk berpikir dan bertindak apa pun sesuai dengan kehendaknya sendiri, tanpa kendali, dan tanpa keinginan untuk membatasi diri. Sumber utama id terletak dalam pikiran kanak-kanak. Oleh karena itu, interpretasi id dapat dikembalikan ke masa kanak-kanak tokoh dalam karya sastra/sastrawan.
2.    superego, yaitu perwujudan wewenang ayah dan masyarakat, wewenang untuk mengendalikan dan membatasi dengan keras keinginan-keinginan tanpa kendali dan tanpa pembatasan diri id.
3.    ego, yaitu penyeimbang antara tuntutan-tuntutan pengendalian diri dan pembatasan dii milik superego, dan dorongan tanpa kendali dan tanpa batas milik id. Dalam kedudukannya sebagai penyeimbang, ego adalah kepanjangan kesadaran pikiran. Kesadaran inilah yang mengendalikan kata-kata, tindakan-tindakan, dan pikiran-pikiran seseorang dalam menghadapi masyarakat sebagai sebuah dunia di luar dunia dirinya sendiri.
Kegunaan interpretasi adalah melihat motivasi di balik ketiga komponen yang dari luar tampak satu, namun sebenarnya bukan satu. Karena itu, psiko analisa, khususnya dalam sastra, adalah metode intepretasi untuk menemukan motivasi yang tersembunyi dalam jiwa tokoh dalam karya sastra/pengarang yang muncul dalam perilaku tokoh. Penganalisis mencari kunci-kunci perilaku (kata-kata, pikiran, tindakan) dalam karya sastra untuk melihat motivasi apa sebenarnya yang berada di balik kunci-kunci itu.

***

(Budi Darma, Pengantar Teori Sastra, 2004, Jakarta: Pusat Bahasa Diknas)

http://rumahkepompong.multiply.com/journal/item/26/kode_NFD_Ringkasan_Pengantar_Teori_Sastra

Berbagai pendekatan sastra

Oleh: Mr Marjan

1. Pendekatan biografis

Wellek dan Warren dalam Theory of Literature menyatakan bahwa pendekatan biografis merupakan teori tertua dalam kajian sastra. Pendekatan ini terkait dengan latar belakang pengarang dan proses kreatif. Pendekatan biografi diarahkan sebagai representasi atau membaca teks sastra sebagai teks hidup pengarang. Pendekatan biografis ramai di Barat dalam pembicaraan sastra pada abad ke-19. Pendekatan ini lalu dianggap rentan dengan kelemahan dan kesalahan. Pada awal abad ke-20 teori ini jarang dipakai dala pembacaan dan penilaian teks sastra. Pelupaan atau penyingkiran ini justru memberi kemungkinan kejutan ketika ada yang mau memakai kembali dengan ramuan-ramuan tambahan atau pencanggihan tertentu. Kebutuhan terhadap keterangan utuh atau totalitas teks sastra dan pengarang bisa ditemukan dengan penedekatan biografi.

2. Pendekatan Psikologis

Psikoanalisis dalam sastra memiliki empat kemungkinan pengertian. Yang pertama adalah studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Yang kedua adalah studi proses kreatif. Yang ketiga adalah studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra.Yang keempat adalah mempelajari dampak sastra pada pembaca. Namun, yang digunakan dalam psikoanalisis adalah yang ketiga karena sangat berkaitan dalam bidang sastra.

Asal usul dan penciptaan karya sastra dijadikan pegangan dalam penilaian karya sastra itu sendiri. Jadi psikoanalisis adalah studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra.

3. Pendekatan Historis

(pendekatan sosiologis-historis menyaran kepada pendekatan yang menempatkan karya yang sebenarnya dalam hubungannya dengan peradaban yang menghasilkannya. Peradaban di sini dapat didefisikan sebagai sikap-sikap dan tindakan-tindakan kelompok masyarakat tertentu dan memperlihatkan bahwa sastra mewadahi sikap-sikap dan tindakan-tindakan mereka sebagai persolan pokoknya)” ( (Rohrberger dan Woods, 1971:9).

4. Pendekatan Sosiologis

Pendekatan sosiologis ini pengertiannya mencakup berbagai pendekatan , masing-masing didasarkan pada sikap dan pandangan teoritis tertentu, tetapi semua pendekatan itu menunjukkan satu ciri kesamaan, yaitu mempunyai perhatian terhadap sastra sebagai institusi sosial yang diciptakan oleh sastrawan sebagai angoota masyarakat.

5. Pendekatan Ekspresif

Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang mendasarkan pada pencipta atau pengarang karya sastra

6. Pendekatan Mimetik

Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mendasarkan pada hubungan karya sastra dengan universe (semesta) atau lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi lahirnya karya sastra itu

7. Pendekatan Pragmatis

Sudut Pandang Pragmatis pandangan terhadap karya sastra (seni) secara pragmatis ini menggeser doktrin “seni (hanya) untuk seni” . Dalam kaitan ini, Horace, misalnya, mengetengahkan tesis dan kontratesisnya terhadap karya seni. Menurut Horace, bahwa seni harus dulce et utile atau menghibur dan bermanfaat (Wellek & Warren, l977). Karya seni yang menghibur dan bermanfaat harus dilihat secara simultan, tidak secara terpisah antara satu dengan yang lainnya.

8. Pendekatan Objektif

Pendekatan obyektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra. Dengan pendekatan obyektif ini penelaah melihat karya sastra sebagai produk manusia atau artifak. Karya sastra, dalam hal ini, merupakan suatu karya yang otonom, yang dipisahkan dari hal-hal di luar karya itu sendiri. Dengan demikian telaah karya sastra dengan pendekatan obyektif beranjak dari aspek-aspek atau unsur-unsur yang langsung membangun karya sastra.

Diposkan oleh Marjan Fariq di 22.28

http://marjanfariq.blogspot.com/2008/12/teori-sastra.html

Minggu, 14 Februari 2010

Teori-Teori Sastra

Teori Psikoanalisis Sastra
Teori sastra psikoanalisis menganggap bahwa karya sastra sebagai symptom (gejala) dari pengarangnya. Dalam pasien histeria gejalanya muncul dalam bentuk gangguan-gangguan fisik, sedangkan dalam diri sastrawan gejalanya muncul dalam bentuk karya kreatif. Oleh karena itu, dengan anggapan semacam ini, tokoh-tokoh dalam sebuah novel, misalnya akan diperlakukan seperti manusia yang hidup di dalam lamunan si pengarang. Konflik-konflik kejiwaan yang dialami tokoh-tokoh itu dapat dipandang sebagai pencerminan atau representasi dari konflik kejiwaan pengarangnya sendiri. Akan tetapi harus diingat, bahwa pencerminan ini berlangsung secara tanpa disadari oleh si pengarang novel itu sendiri dan sering kali dalam bentuk yang sudah terdistorsi, seperti halnya yang terjadi dengan mimpi. Dengan kata lain, ketaksadaran pengarang bekerja melalui aktivitas penciptaan novelnya. Jadi, karya sastra sebenarnya merupakan pemenuhan secara tersembunyi atas hasrat pengarangnya yang terkekang (terepresi) dalam ketaksadaran.

Teori Sastra Struktural
Studi (kajian) sastra struktural tidak memperlakukan sebuah karya sastra tertentu sebagai objek kajiannya.
Yang menjadi objek kajiannya adalah sistem sastra, yaitu seperangkat konvensi yang abstrak dan umum yang mengatur hubungan berbagai unsur dalam teks sastra sehingga unsur-unsur tersebut berkaitan satu sama lain dalam keseluruhan yang utuh. Meskipun konvensi yang membentuk sistem sastra itu bersifat sosial dan ada dalam kesadaran masyarakat tertentu, namun studi sastra struktural beranggapan bahwa konvensi tersebut dapat dilacak dan dideskripsikan dari analisis struktur teks sastra itu sendiri secara otonom, terpisah dari pengarang ataupun realitas sosial. Analisis yang seksama dan menyeluruh terhadap relasi-relasi berbagai unsur yang membangun teks sastra dianggap akan menghasilkan suatu pengetahuan tentang sistem sastra.

Teori Sastra Feminis
Teori sastra feminisme melihat karya sastra sebagai cerminan realitas sosial patriarki. Oleh karena itu, tujuan penerapan teori ini adalah untuk membongkar anggapan patriarkis yang tersembunyi melalui gambaran atau citra perempuan dalam karya sastra. Dengan demikian, pembaca atau peneliti akan membaca teks sastra dengan kesadaran bahwa dirinya adalah perempuan yang tertindas oleh sistem sosial patriarki sehingga dia akan jeli melihat bagaimana teks sastra yang dibacanya itu menyembunyikan dan memihak pandangan patriarkis. Di samping itu, studi sastra dengan pendekatan feminis tidak terbatas hanya pada upaya membongkar anggapan-anggapan patriarki yang terkandung dalam cara penggambaran perempuan melalui teks sastra, tetapi berkembang untuk mengkaji sastra perempuan secara khusus, yakni karya sastra yang dibuat oleh kaum perempuan, yang disebut pula dengan istilah ginokritik. Di sini yang diupayakan adalah penelitian tentang kekhasan karya sastra yang dibuat kaum perempuan, baik gaya, tema, jenis, maupun struktur karya sastra kaum perempuan. Para sastrawan perempuan juga diteliti secara khusus, misalnya proses kreatifnya, biografinya, dan perkembangan profesi sastrawan perempuan. Penelitian-penelitian semacam ini kemudian diarahkan untuk membangun suatu pengetahuan tentang sejarah sastra dan sistem sastra kaum perempuan.

Teori Sastra Struktural
Teori resepsi pembaca berusaha mengkaji hubungan karya sastra dengan resepsi (penerimaan) pembaca. Dalam pandangan teori ini, makna sebuah karya sastra tidak dapat dipahami melalui teks sastra itu sendiri, melainkan hanya dapat dipahami dalam konteks pemberian makna yang dilakukan oleh pembaca. Dengan kata lain, makna karya sastra hanya dapat dipahami dengan melihat dampaknya terhadap pembaca. Karya sastra sebagai dampak yang terjadi pada pembaca inilah yang terkandung dalam pengertian konkretisasi, yaitu pemaknaan yang diberikan oleh pembaca terhadap teks sastra dengan cara melengkapi teks itu dengan pikirannya sendiri. Tentu saja pembaca tidak dapat melakukan konkretisasi sebebas yang dia kira karena sebenarnya konkretisasi yang dia lakukan tetap berada dalam batas horizon harapannya, yaitu seperangkat anggapan bersama tentang sastra yang dimiliki oleh generasi pembaca tertentu. Horizon harapan pembaca itu ditentukan oleh tiga hal, yaitu
1. kaidah-kaidah yang terkandung dalam teks-teks sastra itu sendiri,
2. pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan berbagai teks sastra, dan
3. kemampuan pembaca menghubungkan karya sastra dengan kehidupan nyata.
Butir ketiga ini ditentukan pula oleh sifat indeterminasi teks sastra, yaitu kesenjangan yang dimiliki teks sastra terhadap kehidupan real.

Teori resepsi sastra beranggapan bahwa pemahaman kita tentang sastra akan lebih kaya jika kita meletakkan karya itu dalam konteks keragaman horizon harapan yang dibentuk dan dibentuk kembali dari zaman ke zaman oleh berbagai generasi pembaca. Dengan begitu, dalam pemahaman kita terhadap suatu karya sastra terkandung dialog antara horizon harapan masa kini dan masa lalu. Jadi, ketika kita membaca suatu teks sastra, kita tidak hanya belajar tentang apa yang dikatakan teks itu, tetapi yang lebih penting kita juga belajar tentang apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri, harapan-harapan kita, dan bagaimana pikiran kita berbeda dengan pikiran generasi lain sebelum kita. Semua ini terkandung dalam horizon harapan kita.

http://www.lutfasiluetsenja.co.cc/2010/02/teori-teori-sastra.html

Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia.

Sigmund Freud sendiri dilahirkan di Moravia pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939.

Pada mulanya istilah psikoanalisis hanya dipergunakan dalam hubungan dengan Freud saja, sehingga “psikoanalisis” dan “psikoanalisis” Freud sama artinya. Bila beberapa pengikut Freud dikemudian hari menyimpang dari ajarannya dan menempuh jalan sendiri-sendiri, mereka juga meninggalkan istilah psikoanalisis dan memilih suatu nama baru untuk menunjukan ajaran mereka. Contoh yang terkenal adalah Carl Gustav Jung dan Alfred Adler, yang menciptakan nama “psikologi analitis” (en: Analitycal psychology) dan “psikologi individual” (en: Individual psychology) bagi ajaran masing-masing.
Psikoanalisis memiliki tiga penerapan:

1) suatu metoda penelitian dari pikiran;

2) suatu ilmu pengetahuan sistematis mengenai perilaku manusia; dan

3) suatu metoda perlakuan terhadap penyakit psikologis atau emosional.

Dalam cakupan yang luas dari psikoanalisis ada setidaknya 20 orientasi teoretis yang mendasari teori tentang pemahaman aktivitas mental manusia dan perkembangan manusia. Berbagai pendekatan dalam perlakuan yang disebut “psikoanalitis” berbeda-beda sebagaimana berbagai teori yang juga beragam. Psikoanalisis Freudian, baik teori maupun terapi berdasarkan ide-ide Freud telah menjadi basis bagi terapi-terapi moderen dan menjadi salah satu aliran terbesar dalam psikologi..

Sebagai tambahan, istilah psikoanalisis juga merujuk pada metoda penelitian terhadap perkembangan anak.

Dikkutip dari wikipedia.

Dalam ilmu seni rupa dan sastra ilmu psikoanalisis atau psiko analisa seringkali dikaitkan dengan aliran atau paham surealisme.
Surealisme merupakan gerakan seni yang mula-mula tumbuh di Eropa dan
kemudian meluas secara internasional. Misteri tentang ketidaksadaran yang
dihadapi para seniman seakan bertemu dengan wacana psikoanalisis yang
dikembangkan Sigmund Freud. Estetika yang dikembangkan kaum Surealis
berakar dari Dadaisme yang antiseni dan Pittura Metafisica Italia yang
mendedahkan dunia khayal di era sebelumnya
dikutip dari ( http://file.upi.edu/)

kata kunci menuju posting ini:

pengertian psikoanalisa PENGERTIAN dadaisme psikoanalisa pengertian psikosastra Teori pisikologi analisis psikoanalisis pengertian psikoanalisis psikologi analisa definisi psikoanalisis pengertian kubisme pengertian psiko sigmund freud psikoanalisis pengertian teori psikoanalisis apa itu psikoanalisa definisi psikoanalisa

http://adiyel.multiply.com/journal/item/3/SASTRA_dan_PSIKOLOGI

http://tarmizi.wordpress.com/2008/11/21/analisis-frustrasi-tokoh-utama-novel-nayla-karya-djenar-maesa-ayu-sebuah-kajian-psikologis/

http://www.scribd.com/doc/30559067/Psiko-Analisis-Jung

http://id.wikipedia.org/wiki/Psikoanalisis

http://www.kanisiusmedia.com/resensi_detail.php?idresensi=37

http://bermenschool.wordpress.com/2009/03/27/psikoanalisis-dan-sastra/

One Comment (+add yours?)

  1. Trackback: http://sastradanbahasa.wordpress.com/201 … « Edy Budi Winardi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: